September 27 2019 0Comment

Preservasi Jalan Yogyakarta – Bantul – Parangtritis

Salah satu paket pekerjaan long segment TA 2019 di wilayah Satker PJN Provinsi D.I.Yogyakarta adalah Paket Preservasi Jalan Yogyakarta – Bantul – Parangtritis yang memiliki lingkup pekerjaan rutin preventif, rehabilitasi mayor jalan dan rehabilitasi jembatan. Hingga 25 September 2019 progress fisik sudah mencapai 78,343%.

Pekerjaan rutin preventif di ruas Jalan Arteri Selatan Yogyakarta sepanjang 1,6 Km, rehabilitasi mayor di ruas Jalan Yogyakarta – Batas Kota Bantul sepanjang 500 meter dan di ruas Jalan Kretek – Parangtritis sepanjang 1 Km, rehabilitasi jembatan Winongo B2 sepanjang 31 meter, pemeliharaan rutin jalan sepanjang 49,16 Km dan pemeliharaan rutin jembatan sepanjang 1.571 meter.

Di Jalan Arteri Selatan Yogyakarta (pada 25/9) masih berlangsung penanganan dengan CMM tepatnya di daerah Gonjen sepanjang 400 meter. Di titik ini penanganan CMM sedalam 5 cm. Setelah di scrubbing dan dibersihkan dengan kompresor, maka dilanjutkan dengan take coat dan penghamparan aspal. Penanganan dilakukan dengan cepat dan seksama mengingat jalur ini salah satu jalur yang cukup padat dan jalur vital bagi kota Yogyakarta. Dengan penanganan yang berada di jalur cepat ini, maka lalu lintas di sepanjang pekerjaan dialihkan melalui jalur lambat.

Juniar Perkasa Setia Laksana, PPK 1.2 Satker PJN Provinsi D.I.Yogyakarta yang sering disapa dengan nama Tony menjelaskan bagaimana proses penentuan jenis penanganan pemeliharaan. Tony menyebutkan bahwa dari segi visual adanya retakan menunjukkan adanya kerusakan. Tidak berhenti disitu, perlu adanya tes lebih lanjut.

“Kita mencoba mengadjust kembali retak-retak itu. Kita core, kita tes speed. Kita mau tau kerusakan sampai tingkat mana. Apakah hanya permukaan saja atau sampai lapisan pondasi di bawah”

Juniar Setia Perkasa Laksana, PPK 1.2 Satker PJN DIY
Juniar Setia Perkasa Laksana, PPK 1.2 Satker PJN DIY
Proses Rehabilitasi Ruas Jalan Kretek – Parangtritis (dok. PPK 1.2)

Setelah itu mulai memetakan mana yang memang cukup dengan overlay dan mana yang harus direkonstruksi. Atau dengan kata lain apakah memerlukan penggantian Lapisan Pondasi Atas (LPA) Kelas A, dan mana yang cukup dilakukan dengan CMM (pengelupasan lapisan permukaan).

“Memang membutuhkan waktu untuk memetakan itu sepanjang 1 KM dan 0,5 km. Titik mana saja yang harus dilakukan rekonstruksi. Untuk mengoptimalkan dana yang ada, harus bisa dipilah mana yang urgent dan mana yang masih bisa di-hold” ujar Tony.

Dari hasil penentuan tersebut maka dalam rekonstruksi ada yang menerus dan ada yang spot-spot.

Pembongkaran Lantai Jembatan (dok. PPK 1.2)
kondisi jembatan setelah dilakukan rehabilitasi

Rehabilitasi Jembatan

Jembatan Winongo B2 adalah jembatan yang memerlukan rehabilitasi. Jembatan ini berada di ruas jalan Yogyakarta – Batas Kota Bantul. Penanganan yang dilakukan di jembatan ini adalah penggantian lantai jembatan, penggantian bearing pad/ elastomer, dan penggantian expansion joint (dengan tipe aspaltic.

“Ini jembatan rangka 1989, kondisi awal sudah beberapa kali kita grouting, sudah retak-retak. Itu yang kita khawatirkan tidak mampu memikul beban, kita lakukan penggantian lantai jembatan. dan untuk pemeliharaan rangka bajanya sendiri kita lakukan pengecatan” tutur Tony.

Dalam proses penanganan penggantian lantai jembatan Winongo yang berada di jalur akses utama dari Yogyakarta ke kota Bantul menimbulkan dampak terhadap lalu lintas mengingat jembatan tersebut harus ditutup total selama pengerjaan.

“Saat itu kita harus lakukan alih trase (re route) dan itu memang selama sekian waktu macet dimana mana, keluhan dari warga juga sampai ke kami. Karena penggantian lantai jembatan harus kita bongkar total. Pekerjaan sudah selesai per 23 Juli 2019” kata Tony. (LU/CK)

 

administrator

Write a Reply or Comment